Tuesday, 23 December 2025

Ketika fitnah jadi hukuman mati : Membaca Witch Hunt lewat film “The stoning of Soraya”

December 23, 2025 4

Ini Adalah salah satu dari sekian banyak film yang cukup emosional bagi saya kala pertama kali menontonnya terkhusus lagi kala sadar jikalau film ini dari kisah nyata. Film ini berakhir saya rewatch lagi untuk saya review di blog setelah sekian lama mengendap terkubur diingatan.

Membaca Witch Hunt lewat film “The stoning of Soraya”

The Stoning of Soraya Adalah film yang diadopsi dari sebuah buku yang berjudul “La Famee Lapidee” yang berarti The stoned Women karya jurnalis prancis iran “Freidoune sahebjam” buku tersebut merupakah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1986 negara Iran. Film ini akhirnya berhasil di rilis pada tahun 2008 sekalipun sempat mendapat larangan penayangan di sejumlah negara timur Tengah.

Adapun alur kisahnya menceritakan tentang kondisi yang tidak stabil dengan Wanita sebagai objek misoginis dan korban dari praktik patriaki kala itu yang terjadi di desa Kuptan e Malu, Iran. Kisah dimulai dengan Soraya sebagai pemeran utama yang menjadi seorang ibu dari 2 anaknya dengan bersuamikan seorang lelaki yang kebelet nikah lagi, setelah segala kekerasan dan polemik yang telah dia lakukan kepada istrinya, ia tidak mau menalak istri untuk menikah lagi karena akan ada tanggung jawab anak, nafkah iddah dan mut'ah jadi pihak si laki merasa rugi. 

Kondisi semakin rumit Ketika posisi daerah yang kental akan patriaki ini ternyata tidak berpihak kepada wanita, beragam cara dilakukan sang suami agar bisa berpisah dengan istri dengan aman ataupun tak aman. Ia bahkan berani mengambil resiko dengan cara mengfitnah istrinya,  scenario terburuk yang bisa membuat istrinya juga meninggal karena hidup di negara yang menerapkan hukum islam (rajam) demi bisa menikahi “wanita daun muda” yang jadi incaranya. Parahnya, sekalipun beresiko besar yaitu sang suami jikalau ketahuan berbohong bisa ikut dieksekusi, namun ia tetap tak bergeming  dengan tekadnya itu, bahkan sebaliknya kini ia semakin bertindak berani. Terkhusus melihat posisi wanita tak punya suara di daerah tersebut untuk membela diri.

Membaca Witch Hunt lewat film “The stoning of Soraya”

Polemik ini semakin parah Ketika pihak si lelaki bahkan berhasil menghasut orang, beberapa orang terdekat baik anak lelaki Soraya atau pun ayah Soraya juga tidak mempercayai anaknya sendiri, film ini benar-benar membuat emosional terkhusus dengan sinematografi nya yang cukup dramatis. Scene perajaman adalah bagian yang cukup traumatis untuk  dilihat terkhususnya lagi ada bagian mencekam dimana sang anak dan  ayah dari Soraya juga ikutan melempar batu untuk merajamnya. Faktanya cerita ini berlanjut terungkap di tahap akhir kala seorang wartawan yang tidak sengaja lewat desa ini, wartawan inilah yang menjadi sumber dari buku “Freidoune sahebjam” atau the Stonned women“ tersebut, yang kemudian mengalami adaptasi judul baru pada filmnya yaitu “The stonning of Soraya”. Jikalau kalian tertarik untuk menontonnya, kalian bisa akses langsung di youtube dengan gratis. 



 "Ketika fitnah menjadi hukum. “Rajam dan api unggun”

Saya yakin ada banyak pro kontra dengan film ini dengan segala asumsi yang bertebaran liar. Pastinya ada yang menyebut film ini kospirasi untuk menjatuhkan islam atau alat propaganda baru kepentingan beberapa pihak yang ditambah drama berlebihan agar lebih tragis. Padahal itu adalah kejadian pelaku yang memanfaatkan agama dan itu juga terjadi di agama lain, selalu ada spesies yang sama.   Karena faktanya pada zaman Rasulullah pun rajam sngat jarang terjadi bahkan ada yg menyebut dua kali satu kasus ma'iz dan satu lagi kasus wanita yang hamil yg cukup familiar di telinga kita, itupun pengakuan dari pelaku sebagaiamana poisisi wanita itu sendiri yang datang meminta di rajam setelah mengaku berzina, bahkan posisi kala itu nabi tidak langsung menerima pengakuannya dan memalingkan wajah, Wanita ghamidiyah tersebut datang berulang kali dan bersikukuh sampai memberi tahu ia telah hamil.  Sebagaimana termaktub dalah hadis Dari budaidah r.a

“Mengapa engkau menolakku? Mungkin engkau ingin menolakku seperti engkau menolak Ma’iz, Demi Allah aku hamil.”

Akhirnya Rasulullah meminta ia melahirkan anaknya dulu dan bahkan setelah melahirkan ia Kembali meminta dirajam Rasulullah menyuruhnya untuk menyusuinya dulu sampai anak berumur dua tahun baru setelah semua tuntas ia bertanya Kepada penduduk siapa yg berkenan merawat anak tersebut untuk memastikan kondisi, sang wanita benar-benar telah selesai dengan semuanya urusan dunianya dan kekhawatiran terhadap kondisi masa depan anaknya pudar.  Sejauh itu perlakuan islam memastikan keadaan anak ia kedepannya. Bahkan bukan sekedar terpenuhi hak sebagai wanita tapi juga diberi kesempatan menjadi ibu kala itu. Sehingga tidak bisa dijadikan landasan film ini untuk menjatuhkan islam karena praktiknya misoginis tubur liar di setiap wilayah tanpa melihat penganut daerah tersebut, contoh di negara bukan penganut muslimpun seperti eropa misoginis dan pratriaki tubur subur. Sehingga akan mudah kita temukan orang memanfaatkan agama hingga budaya dalam menekan wanita jikalau mau diselidiki. Baca juga Review movie "The great kitchen" Cara membungkam wanita

Adapun sebagai Contoh di negara eropa tepatnya di kisaran 1400-1750 dengan puncaknya di kisaran 1550-1650 dimana muncul istilah witch hunts untuk menyingkirkan mereka yang dituduh sebagai penyihir dengan korban 78% Adalah Wanita dengan status janda, Perempuan tua, Perempuan miskin sampai Perempuan yang vocal, diperkirakan ada sekitar 40.000–60.000 orang yg jadi korban. Kejadian ini terjadi paling parah di Kawasan Eropa yaitu jerman, swiss, perancis skotlandia, belanda, eropa timur dengan pemicu utamanya yaitu wabah penyakit (black death), agama, patriaki dan buku Malleus Maleficarum, dimana berapa point yang ditonjolkan dalam buku karya Heinrich Kramer tersebut ialah, penyihir kebanyakan Perempuan, mereka mudah tergoda, dan emosional. Buku tersebut bahkan memberikan penjelasan gimana cara menyiksa agar mengaku dan mematikan para penyihir agar tidak bisa bangkit lagi entah dengan cara digantung, ditenggelamkan atau sampai dibakar. ya begitulah misoginis membunuh perempuan. Maka tak heran ada yang menyebut fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan kan?   

Dari penyihir hingga penzina pola yang sama untuk mengfitnah Wanita.


 #reviewmovie #film #rekomendasifilm #movie #iran #girlzone

 

Sunday, 21 December 2025

Begini cerita. Troma Aceh gelap efek bencana Banjir.

December 21, 2025 0



Suara Langkah kaki terdengar lebih lembut kala ini, tapak kaki seakan hilang tenaga untuk melangkah dalam iringan waktu jam 4 pagi. “Kak sudah tidur?”, terdengar suaranya dibalik pintu kamar, dari suaranya terlihat lesu, seakan baru di phk dikarir barunya yang baru dimulai kurang dari sebulan. Dalam gelapnya malam yang tak diterang sedikitpun obor saya menjawab, “belum kenapa” firasat memang sudah kacau dari awal kala ia jam satu tak pulang. “Aku jatuh hp sudah keliling banda tapi gk ketemu juga”. Kudengar suara lelahnya sangat pasrah “sudah coba hp?” langsung kubuka pintu, sembari meraba kunci. Aku bertanya waswawas menyadari benar firasatku kali ini. “Gk dapat sinyal hp diluar servis area, ia langsung memberikan power banknya yang tak berarti lagi untuk saya carger hp saya yang sudah mati dari tadi siang, “entah diambil orang atau memang karena gk ada sinyal mati lampu”. Setengah lesu ia terduduk, Opsi Cuma dua spekulasi bermunculan karena jatuhnya di jam rawan yaitu jam 12 dengan posisi padam lampu sehingga kehilangan sinyal jadi susah di track pakai aplikasi find me bawaan hpnya. Memang petaka kali ini juga bervariasi selain bencana banjir yang benar datang dengan tsunami kayu yang membuat Kawasan aceh rusak layaknya tsunami 2004.
 

            Tiang Listrik dan puluhan jembatan rusak totak, longsor rumah tertimbun begitu parah, jarak dan sekat tanah hilang membuat aceh dan skitaran yang menjadi Kawasan lezat untuk disantap mafia tanah, semua kini dimulai dari nol. Desember Kembali menjadi troma untuk aceh sekalipun bukan semua Kawasan yang menjadi target amukan alam  namun bikin seluruh aceh jadi kewalahan. Pemadaman lampu yang tak disangka membuat seluruh aceh kacau Listrik hilang sinyalpun hilang untuk semua provider layanan, kasuus ini mempersulit kondisi untuk mencari hp memang benar doble kill setelah puasa Listrik hampir dua hari kini mendapat berita buruk lagi di kondisi begini. Dua hari setres gk hidup lampu bertambah stress berita baru.

            “Besok coba cari kalau gk dapat urus aktivasi kartu dulu biar gk di salah gunain orang kalau kedapatan dan di pasang no di Whatsap baru” segala kemungkinan baru bermunculan memang hp ada password tapi semisal kartu di ambil di pasang di hp lain dan download whatsap  untuk ngaku jadi dia tentunya bisa bahaya. “ia menganguk lesu” Akhirnya di jam yang mengusung hampir pagi dengan segala kecemasan saya meyuruhnya tidur agar pagi yang sebentar lagi bisa berangkat memperbaiki apa yang bisa diselematkan sekiranya tak berjodoh dengan hpnya lagi.


Saturday, 13 December 2025

Review Buku Selimut Debu “Membedah negara Thaliban”

December 13, 2025 1

Review buku Selimut Debu

Siapa yang tidak tahun negara afghanistan, sebuah negara yang cukup terkenal karena perang suburnya dan dengan thaliban sebagai laskar khasnya. Negara ini memang familiar ditelinga banyak orang, tapi tak banyak yang tahu jikalau negara ini pernah menjadi negara suci umat budha sedunia layaknya umat muslim dengan kota mekkahnya.

            Saya benar-benar tidak menyangka banyak insight baru setelah baca buku setebal 400an halaman ini. Perjalanan Agustinus ke negara berselimut debu benar-benar utasan dengan beragam kejutan baru yang perdana saya dengar sebagai contoh, para thaliban mengharamkan makan dengan menggunakan meja dan kursi agak ekstrim kedengaranya.  Syukurnya itu berupa pengalaman dulu jadi dengan sekarang pastinya sudah berbeda Ketika negara ini perlahan mulai berani membuka tirainya.

               Buku selimut debu ini Adalah perjalanan era awal 2000an Dimana batas akses ke negara yang dihujani perang ini cukup terbatas informasi dan internary. Perjalanan Panjang agustinus sang penulis cukup menarik untuk disimak dengan nuansa thaliban yang masih sangat kerasa kala itu, bentuk cerita story tellingnya benar-benar mengalir rapi walau tidak ada daftar isi yang memilah bagian perbab seperti normalnya buku. Minusnya Jumlah gambar yang ditampilkan terhitung sedikit tapi kaya dengan deskripsi sehingga memperluas imajinasi.

            Siapa yang tidak tahu thaliban, sebuah laskar yang berhasil mengusir pasukan uni soviet dengan kekuatan imam dan taqwa. Kemuculannya sempat dijadikan pahlawan sampai berlarut waktu berubah menjadi ketakutan. Nyatanya di awal keberadaan thaliban cukup aktif merekontruksi aturan untuk segala kasus criminal, pemerkosa dan kejathatan berkurang namun berlanjut dengan aturan ketat lain yang membuat ruang gerak Masyarakat umum juga jadi kecil. Music haram, Wanita wajib memakai burqa dan bahkan disembunyikan dirumah.

            Bagi sebagian orang perlakuan ini adalah cara melindungi Wanita walau opsinya dengan mengurung mereka di rumah atau keluar wajib dengan mahram. Namun faktanya kejahatan tetap tidak berhenti Dimana tetap lelaki sebagai pelakunya lagi. Tidak dapat perempuan kali ini lelaki muda yang terlihat mulus menawan jadi incaran.  Ada sebuah adat yang menargetkan anak lelaki muda sebagai pelampiasan tradisii ini terkenal familiar di kalangan Kandahar namun tidak menutup kemungkinan di daerah lain yang merambah sampai ke negara tetangga di Peshawar Pakistan. Namanya bachazbazi tradisi haram ini bahkan enggan diakui walau faktanya bersimbah bocah yang jadi alat permainannya. Kata bachabazi sendiri diambil dari dua kata bacha yang berarti bocah dan bazi bermain sederhanannya bisa dikatakan bermain dengan bocah untuk kesenangan untuk berdansa bahkan sampai tahap segs ada juga yang bahkan punya bocah peliharaan yang versi kita ani ani simpanan untuk kesenangan bedanya ini kasus sejenis. Entah bagaimana berkembang suburnya praktik homo di negara yang dimeriahkan hukum syariat  disini tapi tidak bisa di jadikan alasan karena wanita dikurung, karena kasarnya ponny,  seekor orang hutan yang dijadikan psk di kalimatan adalah bukti ada atau tidak adanya Perempuan lelaki yang tidak mengontrol diri bisa seperti babi liar alias semua di trabas.

 Saking larisnya cerita ini bahkan ada yang menyebut jikalau menemukan uang jangan sembarangan membungkuk untuk mengambilnya karena dengan membungkuk dianggap sama saja memberi izin untuk ditrobos lewat belakang. Agustinus sendiri pernah dua kali menceritakan pengalaman yang membuatnya hampir menjadi korban pelecehan oleh lelaki ditambah satu kali berhasil diremes amunisinya oleh lelaki kala pemeriksaan bahkan pada satu cerita lain ia menuturkan “Berbeda dengan di Peshawar yang mana dalam sehari saya bisa mengalami lebih dari sekali pelecehan”  Setingkat laki-lakipun tidak aman posisi.

Review buku Selimut Debu

     Menariknya lagi cerita thaliban bukanlah satu satunya pemeran utama di perjalanan agsutinus ini, Selain tradisi bachabazi, mengulik budaya  Bertani opium sampai senjata rakitan adalah kejutan baru yang baru saya dapatkan langsung di buku ini. Kisah patung budha yang dihancurkan thaliban juga menjadi bagian menarik untuk dilirik. Alur perjalanan biksu yang mencari kitab suci dalam cerita kera sakti kala kecil Adalah bagian yang menjadi histori dari negara ini. Dalam kaidah kepercayaan kera sakti nya hanya pelengkap dari cerita murni sang biksu dari dinasti tang, tiongkok yang benar-benar melakukan perjalanan ke arah barat untuk mencari kitab suci, Saya jadi paham tentang konsep budhisme dari buku ini tentang asal usul lahirnya patung budha yang mulanya berasal dari perpaduan seni kultur Yunani yang berkombinasi dengan konsep ajaran budha, penjelasan dibuat ringkas namun lugas, siapa sangka negara afganista pernah sesakral Mekkah untuk orang yang beragam budha sebelum islam? mulanya budhisme digambarkan sebagai symbol – lingkaran dan chakhra, tapak kaki hingga stupa yang berlanjut berkembang setelah pengaruh budaya Yunani dengan ciri khasnya dewa dan patung saling berkaitan akhirnya munculah patung budha raksasa di negeri Afghanistan.

Negara tetangga selayaknya Pakistan hingga iran juga ikut di mention banyak dalam perjalanan kali ini, walau bukan membidik secara spesifik pada negara iran atau Pakistan namun penampakan negara yang terbuka uluran tangan untuk menolong saudara yang sedang konflik tersemat cukup membantu memahami kondisi politicalnya. Belum lagi cerita tentang raja Amanullah yang sempat mencoba mengsekulerkan negara thaliban dengan mengikuti arah kiblat turki layaknya ratu nya yang melepas kerudung dan aturan lain yang mendukung kearah kebijakan sekuler, namun kisah ini hanya bertahan beberapa tahun saja hingga kudeta dilakukan (1919-1929). Pihak presiden partama M daud juga mencoba memulai program moderanisasi dengan pengurangi penggunaan hijab. Namun tidak ada yang serta merta berhasil.

Membaca buku ini benar- benar kompleks dalam membedah negara yang berselimut debu ini, buku terbitan 2010 tersebut menjadi salah satu buku best sellernya setelah beragama perjalanan mengerikan yang telah dilewatin. Setelah berhasil dituangkan dalam bentuk buku, nyatanya 400 halaman terlihat singkat setelah baca buku ini. Ada banyak sekali intisari menarik yang bisa dijadikan ibrah terlepas dari sisi gelap negara yang kayak history juang ini faktanya negara ini pantang di jajah harga diri yang layak untuk di banggkan walau luluh lantak penampakan

#reviewbuku #selimutdebu #afganistan #thaliban #mujahidin

 






 

Thursday, 27 November 2025

Banjir kali ini salahin siapa lagi?

November 27, 2025 7

Akankah banjir kali ini salahin konser yang sudah di cancel dan tak tampil lagi? Jujur ini Adalah fenomena unik kala setiap musibah terjadi di Kawasan Aceh. Seakan alam mengazab pada setiap acara atau kejadian yang diprediksi bakal menjadi lahan “maksit”. Namun kali ini mari kita bedah dengan nalar sekuler untuk mencari penyebab lain kenapa kajadian separah ini.
Banjir aceh, sumut, sumbar
Banjir di kawasan Aceh, Kembang tanjong, beureunuen

        Dalam seminggu ini hujan tak jera membasahi bumi Sumatra dan sekitarnya. Rumah di bikin kuyup tanpa sempat kering karena hujan yang berlarut datang tiap hari. Terkhusus di Aceh lampu ikutan mogok sampai jangka waktu 12 jam lebih bahkan mungkin untuk beberapa Kawasan sampai 20 jam karena lokasi yang lebih susah aksesnya. Listrik padam, jaringan hilang, Tiang Listrik runtuh di sapu banjir longsor, jembatan putus, bahkan menara patah semua terjadi beriringan tanpa jeda seakan azab kaum Sodom. Orang kesulitan mengabari atau mencari tahu. Akses terputus! Bukan sekedar untuk contact telpon tapi untuk mengantar bantuan jalur daratpun tak bisa kini ditambah debit hujan yang bikin orang mengungsi ke atap rumah sunggu melarat masih dengan ketinggian banjir di beberapa tepat yang hampir seatap juga. Benar-benar bencana nasional yang saya belum tahu apakah sudah diumukan.

Namun sejujurnya untuk Kawasan aceh dan Sumatra utara yang berada pada tepi Kawasan ekstrim memanglah akhir tahun selalu disambut dengan cuaca begini. Hujan dan petir yang bersahutan memang menjadi penutup akhir tahun yang sebernarnya sudah normal, namun siap duga sampai banjir longsor separah kali ini bahkan ada 30 korban yang meninggal yang telah ditemukan di Kawasan sumatra. Tentu timbul pertanyaan… kenapa bisa begini.

     Fenomena kali ini sebenarnya Adalah investasi jangka Panjang terhadap apa yang telah kita perbuat pada alam. Hutan yang dibuat mandul akhirnya menjelma menjadi bencana baru. Tidak ada lagi yang menahan air dan akhirnya Banjir longsor terjadi setelah beribu kali peringatan untuk menjaga alam diidahkan. Sepertinya terlihat sulit untuk tidak menebang hutan dan memilih mengubah hutan jadi ladang sawit. Tidak sekedar warga tapi Perusahaan dan para kapitalis yang dengan leluasa berkarya padahal posisi sendiri tinggal diluar daerah dan luar negeri, alam dijarah di keruk sedemikian liar dan brutal tapi Ketika kejadian seperti ini mereka aman dengan posisi diluar negeri. Masyarakat individual pun tak kalah kacau, kala pasang badan membela para pengusaha dengan cara berdemo ke pemerintah Ketika melakukan penebangan emas dengan alat berat. Beberapa yang lain bahkan menjual kawasan hutan lindung secara illegal untuk disulap jadi ladang sawit dan tempat tinggal kemudian berlanjut update video tiktok dengan caption perintis bukan pewaris dengan hastag #tokesawit. dan ternyata itu belupun belum cukup untuk pemerintah pun ada juga yang  membuat gebrakan dengan berniat  Deforestasi, yaitu Pembukaan lahan untuk kebun sawit, pertanian, atau tambangPembangunan jalan dan pemukiman. Akibatnya hutan jadi berkurang, hewan kehilangan habitat, cuaca makin panas, dan risiko banjir meningkat.

Penampakan hutan Aceh melalui satelit

 Harus bagaimana kini? Menyalahkan konser lagi atau rakyat atau para pengusaha kapitalis atau bahkan pemerintah sendiri yang merongrong semua alam kita untuk memperkaya diri. Sementara itu, gajahpun kini mengungsi diusir sebagai tuan rumah asli yang telah semakin minoritas posisi. Seperti kisruh keributan di taman nasional tesso nilo. Padahal posisi harimau yang sudah berulang kali keluar dari hutan saja sudah jadi pertanda jikalau habitatnya telah rusak parah, babi yang rantai makanan harimau dimusnakah oleh kita karena di anggap hama,kambing hutan diburu dan sembelih, harimau akhrinya mati dijerat kala keluar kebun dan memangsa ternak warga. Akhirnya hutan lebih leluasa di bedah karena tidak ada predator alami lagi. Pada akhirnya alam sendiri yang ambil sikap, sepertinya memang benar azab tapi bukan konser sebagai kambing hitam.

#Bencanaalam #sumatra #sumbar #aceh #sumut

       

Tuesday, 25 November 2025

Why we never hear men support men?

November 25, 2025 4

Why do we rarely hear the phrase “men support men”? Why does it feel almost taboo to talk about male solidarity, while “women support women” is widely celebrated and highly visible? On TikTok, the hashtag #Womensupportwomen has over 118K uses, yet #Mensupportmen barely reaches a few thousand. The difference is huge—and it raises an important question: What’s happening with men?

After digging deeper into this topic, I found several reasons why male support is rarely seen, rarely talked about, and often misunderstood.

1. Many men are raised to be emotionally restricted

     From a young age, boys are often told things like:“Don’t cry, be tough,don’t act soft.”  Parents usually believe they are preparing their sons for a harsh world, but the result is the opposite: boys grow up with very limited space for emotional expression. Showing vulnerability is seen as weakness, so they learn to hide it. Meanwhile, girls are generally encouraged to express their feelings, seek comfort, or cry when they need to. This early emotional conditioning shapes how men relate to each other as adults.

2. Male friendships discourage emotional connection

     In many cultures, male friendships come with strict, unspoken rules. Men are expected to act strong even when they’re struggling. Showing affection—like crying together or giving emotional support—is often mocked as “too soft” or even “gay.”

     On the other hand, women freely compliment each other, comfort each other, and openly show love. A woman telling her friend “You look great today, i like your outfit, tell me if u feel unwell, is normal. But if a man says that to another man, he risks being teased. This social stigma limits how men support each other.

3. Society pushes men to compete, not connect

     Men are taught to measure their worth through dominance—being the strongest, the toughest, the smartest, the most “alpha.” When competition becomes the culture, solidarity becomes rare. Instead of collaborating, many men feel they must prove themselves all the time, even in front of their closest friends.

4. Men fear looking weak—especially to other men

     Research shows men fear judgment from other men more than from women. They stay silent even when they badly need help. They don’t talk, don’t ask, and often carry the burden alone. This silence contributes to rising mental-health issues among men worldwide.

5. Male support does exist—it's just invisible

Men often support each other quietly, helping without asking questions,showing up when needed listening without emotional language but because the support is silent and non-verbal, people rarely notice it. Society expects emotional displays as signs of support—something men are discouraged from doing.

So why is “men support men” so rare? Not because men don’t care.

     Another reason why men support men looking a little bit in social media is  not because they don’t want to support each other. But because traditional masculinity punishes vulnerability, and emotional connection is treated as a threat to a man’s identity. When the culture teaches men to hide their feelings, it’s no surprise that male support becomes invisible and underrepresented.

1.      .   They support each other with silent. Like show up without talking too much or being reliable but since it’s not verbal, it often goes unnoticed because show emotional as men is taboo so that's why the hastag unpopuler like womensupportwomen..

How do we change this? We start by creating environments where men can speak honestly without being mocked. When society stops ridiculing male vulnerability, men will finally have permission to show care openly—just like women do. And when that happens, “men support men” could become more than a rare hashtag; it could become a normal, healthy culture where men uplift each other instead of competing for strength.

Men deserve support too. They just need the space to show it

#womensupportwomen #mensupportmen #hastag

Monday, 24 November 2025

Bahaya toxic positivty kala di bungkus agama

November 24, 2025 2

Belakangan, banyak orang mendorong kita untuk “selalu berpikir positif.” Tapi, kalau dipaksakan terus-menerus, sikap ini berubah jadi toxic positivity—sebuah pola di mana emosi negatif dianggap salah, ditolak, atau disuruh dihilangkan begitu saja. Masalahnya, kondisi ini sering “dibungkus” dengan kata husnuzon (berbaik sangka), padahal sebenarnya berbeda kasus.

Bahaya toxic positivty kala di bungkus agama

    Istilah toxic positivity bukan lagi kata asing di sekitar kita. Meski begitu, banyak orang masih salah memaknai konsep ini—apalagi ketika dibungkus dengan logika agama. Tidak jarang, ajaran tentang kesabaran, prasangka baik (husnuzan), atau keteguhan iman justru menjadi target penyalahgunaan yang membuat kita merasa wajib selalu tampak kuat, tabah, dan positif dalam kondisi apa pun. 

    Kala posisi kita tidak berpikir positif atau husnuzon maka acapkali label kepribadian kita di cap minus (suuzhon mulu) atau rekontruksi akhlak kita dianggap buruk karena tidak punya positif vibes padahal kondisi yang kita lakukan adalah standar pembanding pada kedua sisi agar tingkat kewaspadaan dan sikap kritis kita tidak tumpul,  orang yang tidak menerapkan toxic positivity alias tidak selalu berpikir positif (dicap suuzhon ) Padahal, Kenyataannya pola pikir seperti ini tidak hanya keliru, tetapi juga bisa menjadi tekanan emosional baru yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan spiritual seseorang dikemudian hari. 

     Toxic positivity adalah kebiasaan memaksa diri atau orang lain untuk tetap ceria dan optimis, bahkan saat sedang terluka, sedih, stres, atau marah. Contohnya: “jangan sedih Allah gk kan nguji kamu sejauh ini untuk berakhir nangis” Kalimatnya terlihat baik, tapi intinya menolak realitas emosi manusia. Padahal, sedih dan kecewa itu normal. dan malah di paksa untuk Husnuzon yang mana penerapan kasusnya berbeda. Bahkan nabipun pernah sedih kala meninggalnya istrinya yaitu khadijah yang berlanjut pamannya Abu thalib secara beriringan sehingga nabi menyendiri hingga lahirnya tahun kesedihan nabi. 

    Dalam agama, husnuzon artinya berprasangka baik kepada Allah dan manusia, tapi tetap mengakui kondisi yang kita alami beda dengan toxic positivity. Ketika seseorang dituntut untuk “selalu kuat” dan “harus tetap positif”, ia akhirnya menjadi tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Inilah bentuk awal dari emotional repression atau penekanan emosi, yang bisa berbahaya bila berlangsung lama.

Contoh Kasus: Dipaksa Kuat Saat Tragedi Terjadi

     Kasus yang bisa kita ambil sebagai study bandingnya ialah kala kejadian ambrukknya pesatren kemarin. Orang-orang malah menekankan emosinya untuk bersikap tegar dengan cara focus ke santri sebagai orang yang Syahid alih – alih mempertanyakan kejadian runtuhnya bangunan tersebut. “Insha Allah surga untuk mereka yang syahid karena posisi sedang shalat. Namun berapa persentase dari wali yang fokus pada kelalaian dari pihak pondok? Bukanya membuat laporan, malah Pembangunan dengan dana APBN yang ditawarkan tentunya istilah kapok sangat pantang terdengar di kalangan mereka kalau kasusnya begitu.

    Ucapan seperti: “InshaAllah mereka syahid, jadi jangan berlarut- larut dalam kesedihan.” merupakan penerapan yang jadi penyelamat sekiranya si pelaku benar melakukan kelalaian. Hal ini terdenga menenangkan. Tapi ini juga bisa menjadi bentuk penolakan emosi, terutama ketika keluarga masih membutuhkan jawaban— bukan kalimat penutup pembicaraan. yang lebih berbahaya, narasi seperti ini bisa membuat pihak yang bertanggung jawab merasa aman dari kritik. Fokus masyarakat dipindahkan ke “keikhlasan”, bukan ke aspek keselamatan, kelalaian, atau anggaran yang mungkin bermasalah.

Padahal, agama tidak pernah meminta kita untuk menutup mata dari kebenaran atas nama “sabar”. 

    Dalam banyak kasus, toxic positivity ditanamkan sebagai cara cepat untuk menutup pembicaraan yang dianggap “negatif”, padahal pembicaraan itu penting. Beberapa dampak buruknya: Emosi tertunda dan meledak kemudian, Kehilangan makna spiritual (jikalau berhasil terbongkar kelalai) hingga tidak ada ruang untuk evaluasi. Ketika semuanya dianggap “sudah takdir”, kita menutup pintu untuk memperbaiki sistem agar tragedi tidak terulang kembali.

Baca juga : jangan sekolahkan anak anda di pesantren

     Banyak yang tidak sadar bahwa toxic positivity bukan sekadar “berpikiran positif berlebihan”. Ini adalah bentuk tekanan batin yang membuat seseorang: menolak emosi sendiri, pura-pura kuat saat tidak mampu, mengabaikan luka psikologis, kasus dalam jangka panjang, penekanan emosi semacam ini dapat menurunkan kemampuan regulasi emosi seseorang (dalam teori psikologi disebut emotion regulation). Ini membuat seseorang kesulitan memahami, menerima, dan mengekspresikan perasaan dengan sehat.

Ini bisa dikatakan salah satu kasus toxic positivity yang mengandeng ayat paling viral bagi kita di tahun 2025. Jauh sebelumnya sudah sering kita dengan tocix positivity yang gk kita sadari menjadi ayat sehari-hari.  udah jangan sedih rezeki gk pernah tertukar kalau hakmu pasti kembali kala orang kehilangan hpnya, seakan-sekan, sekiranya tidak ketemu berarti itu bukan hak kita. Banyak kutipan toxic positivity yang membuat kita merasa tenang sesaat padahal aslinya itu adalah bumerang diwaktu lain yang memaksa kita untuk selalu kuat menerima kondisi alih alih intropeksi diri.

#husnuzon #suuzhon #prasangka #toxic #positivity