Tuesday, 23 December 2025

Ketika fitnah jadi hukuman mati : Membaca Witch Hunt lewat film “The stoning of Soraya”

Ini Adalah salah satu dari sekian banyak film yang cukup emosional bagi saya kala pertama kali menontonnya terkhusus lagi kala sadar jikalau film ini dari kisah nyata. Film ini berakhir saya rewatch lagi untuk saya review di blog setelah sekian lama mengendap terkubur diingatan.

Membaca Witch Hunt lewat film “The stoning of Soraya”

The Stoning of Soraya Adalah film yang diadopsi dari sebuah buku yang berjudul “La Famee Lapidee” yang berarti The stoned Women karya jurnalis prancis iran “Freidoune sahebjam” buku tersebut merupakah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1986 negara Iran. Film ini akhirnya berhasil di rilis pada tahun 2008 sekalipun sempat mendapat larangan penayangan di sejumlah negara timur Tengah.

Adapun alur kisahnya menceritakan tentang kondisi yang tidak stabil dengan Wanita sebagai objek misoginis dan korban dari praktik patriaki kala itu yang terjadi di desa Kuptan e Malu, Iran. Kisah dimulai dengan Soraya sebagai pemeran utama yang menjadi seorang ibu dari 2 anaknya dengan bersuamikan seorang lelaki yang kebelet nikah lagi, setelah segala kekerasan dan polemik yang telah dia lakukan kepada istrinya, ia tidak mau menalak istri untuk menikah lagi karena akan ada tanggung jawab anak, nafkah iddah dan mut'ah jadi pihak si laki merasa rugi. 

Kondisi semakin rumit Ketika posisi daerah yang kental akan patriaki ini ternyata tidak berpihak kepada wanita, beragam cara dilakukan sang suami agar bisa berpisah dengan istri dengan aman ataupun tak aman. Ia bahkan berani mengambil resiko dengan cara mengfitnah istrinya,  scenario terburuk yang bisa membuat istrinya juga meninggal karena hidup di negara yang menerapkan hukum islam (rajam) demi bisa menikahi “wanita daun muda” yang jadi incaranya. Parahnya, sekalipun beresiko besar yaitu sang suami jikalau ketahuan berbohong bisa ikut dieksekusi, namun ia tetap tak bergeming  dengan tekadnya itu, bahkan sebaliknya kini ia semakin bertindak berani. Terkhusus melihat posisi wanita tak punya suara di daerah tersebut untuk membela diri.

Membaca Witch Hunt lewat film “The stoning of Soraya”

Polemik ini semakin parah Ketika pihak si lelaki bahkan berhasil menghasut orang, beberapa orang terdekat baik anak lelaki Soraya atau pun ayah Soraya juga tidak mempercayai anaknya sendiri, film ini benar-benar membuat emosional terkhusus dengan sinematografi nya yang cukup dramatis. Scene perajaman adalah bagian yang cukup traumatis untuk  dilihat terkhususnya lagi ada bagian mencekam dimana sang anak dan  ayah dari Soraya juga ikutan melempar batu untuk merajamnya. Faktanya cerita ini berlanjut terungkap di tahap akhir kala seorang wartawan yang tidak sengaja lewat desa ini, wartawan inilah yang menjadi sumber dari buku “Freidoune sahebjam” atau the Stonned women“ tersebut, yang kemudian mengalami adaptasi judul baru pada filmnya yaitu “The stonning of Soraya”. Jikalau kalian tertarik untuk menontonnya, kalian bisa akses langsung di youtube dengan gratis. 



 "Ketika fitnah menjadi hukum. “Rajam dan api unggun”

Saya yakin ada banyak pro kontra dengan film ini dengan segala asumsi yang bertebaran liar. Pastinya ada yang menyebut film ini kospirasi untuk menjatuhkan islam atau alat propaganda baru kepentingan beberapa pihak yang ditambah drama berlebihan agar lebih tragis. Padahal itu adalah kejadian pelaku yang memanfaatkan agama dan itu juga terjadi di agama lain, selalu ada spesies yang sama.   Karena faktanya pada zaman Rasulullah pun rajam sngat jarang terjadi bahkan ada yg menyebut dua kali satu kasus ma'iz dan satu lagi kasus wanita yang hamil yg cukup familiar di telinga kita, itupun pengakuan dari pelaku sebagaiamana poisisi wanita itu sendiri yang datang meminta di rajam setelah mengaku berzina, bahkan posisi kala itu nabi tidak langsung menerima pengakuannya dan memalingkan wajah, Wanita ghamidiyah tersebut datang berulang kali dan bersikukuh sampai memberi tahu ia telah hamil.  Sebagaimana termaktub dalah hadis Dari budaidah r.a

“Mengapa engkau menolakku? Mungkin engkau ingin menolakku seperti engkau menolak Ma’iz, Demi Allah aku hamil.”

Akhirnya Rasulullah meminta ia melahirkan anaknya dulu dan bahkan setelah melahirkan ia Kembali meminta dirajam Rasulullah menyuruhnya untuk menyusuinya dulu sampai anak berumur dua tahun baru setelah semua tuntas ia bertanya Kepada penduduk siapa yg berkenan merawat anak tersebut untuk memastikan kondisi, sang wanita benar-benar telah selesai dengan semuanya urusan dunianya dan kekhawatiran terhadap kondisi masa depan anaknya pudar.  Sejauh itu perlakuan islam memastikan keadaan anak ia kedepannya. Bahkan bukan sekedar terpenuhi hak sebagai wanita tapi juga diberi kesempatan menjadi ibu kala itu. Sehingga tidak bisa dijadikan landasan film ini untuk menjatuhkan islam karena praktiknya misoginis tubur liar di setiap wilayah tanpa melihat penganut daerah tersebut, contoh di negara bukan penganut muslimpun seperti eropa misoginis dan pratriaki tubur subur. Sehingga akan mudah kita temukan orang memanfaatkan agama hingga budaya dalam menekan wanita jikalau mau diselidiki. Baca juga Review movie "The great kitchen" Cara membungkam wanita

Adapun sebagai Contoh di negara eropa tepatnya di kisaran 1400-1750 dengan puncaknya di kisaran 1550-1650 dimana muncul istilah witch hunts untuk menyingkirkan mereka yang dituduh sebagai penyihir dengan korban 78% Adalah Wanita dengan status janda, Perempuan tua, Perempuan miskin sampai Perempuan yang vocal, diperkirakan ada sekitar 40.000–60.000 orang yg jadi korban. Kejadian ini terjadi paling parah di Kawasan Eropa yaitu jerman, swiss, perancis skotlandia, belanda, eropa timur dengan pemicu utamanya yaitu wabah penyakit (black death), agama, patriaki dan buku Malleus Maleficarum, dimana berapa point yang ditonjolkan dalam buku karya Heinrich Kramer tersebut ialah, penyihir kebanyakan Perempuan, mereka mudah tergoda, dan emosional. Buku tersebut bahkan memberikan penjelasan gimana cara menyiksa agar mengaku dan mematikan para penyihir agar tidak bisa bangkit lagi entah dengan cara digantung, ditenggelamkan atau sampai dibakar. ya begitulah misoginis membunuh perempuan. Maka tak heran ada yang menyebut fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan kan?   

Dari penyihir hingga penzina pola yang sama untuk mengfitnah Wanita.


 #reviewmovie #film #rekomendasifilm #movie #iran #girlzone

 

4 comments:

  1. Posting yang menarik. Sedih melihat wanita selalu di posisi subordinate.
    Namun semakin maju tingkat pendidikan dan peradaban suatu bangsa, maka kesetaraan gender makin kuat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar yang membangun peradaban adalah wanita, yang bisa menyelamatkan wanita ada pendidikan semua berotasi disitu-situ saja sebenarnya

      Delete
    2. Halo Inia, terimakasih atas balasannya.

      Wanita memang berperan besar dalam melahirkan, mendidik, dan menanamkan nilai-nilai awal pada generasi baru. Namun peradaban berkembang dari hasil kerja kolektif antara pria dan wanita, bahkan seluruh komunitas.

      Wanita di mayoritas negara-negara yang memiliki budaya patriarki akan sulit menuntut persamaan hak dengan pria. Tapi di negara barat biasanya wanita menikmati persamaan gender yang lebih baik.

      Tak lupa saya ingin ucapkan Selamat Tahun Baru buat Anda dan keluarga. Semoga sehat selalu.

      Delete
    3. Benar, point saya maksudnya wanita berperan besar membangun peradaban bukan berarti lelaki tidak tapi di dimensi manusia saat ini yg cuma menjadikan mereka pelengkap padahal mereka punya posisi yg sama besar cuma yg disayangkan tidak bisa di akses karena keterbatasan pendidikan, entah untuk wanita tersebut atau posisi masyarakat di daerah itu. Yg membuat mereka terkerdilkan. Btw selamat tahun baru juga

      Delete