Akhirnya setelah drama berkepanjangan dalam memenuhi wishlit saya, buku karya Agustinus Wibowo dengan judul “Titik Nol” khatam juga di bulan mei ini.
Setelah
di buat jatuh cinta dengan karya beliau yang berjudul Garis batas akhirnya list
baru masuk untuk melanjutkan pertualangan beliau. Mulai dari Selimut debu
sampai Titik nol ini. Dan untuk sesi Selimut debu saya mendapatkannya terhitung
aman alias preloved dengan kondisi bagus walau warna sudah menguning, tapi
untuk Titik nol ini saya harus ditipu dulu sama Roby subarkah laknat (salah
satu penipu yang cukup famous di Faebook. Sialnya saya ketemu di threads dan gk
konfir lagi ke group fb padahal saya sering juga aktif di Fb). Jatuhnya sama
dengan harga asli untuk dapatkan buku ini alias 120 lebih, kalau di hitung Sama
yang ketipu dengan robby surbakah. padahal Buku garis batas dalam versi
baru saja berhasil saya dapatkan di harga 70 ribu kala bazar di Gramedia. Dan
selimut debu versi preloved 35 ribu. Tapi buku titik nol memang lumayan
perjuangannya. Alhasil saya tidak sekedar membeli buku tapi membeli
pengalaman untuk mengasah tingkat kewaspadaan saya yang mulai tumpul.
Nah
Kembali ke judul utama Review buku titik nol karya Agustinus Wibowo. Banyak
sekali hal yang bisa saya bedah dan rangkum disini. Seperti halnya buku
sebelumnya, ciri khas nya dengan bahasa puitis tetapi tetap mudah dipahami
membuat kita jatuh cinta pada setiap kata dan kalimatnya. Tidak lupa dengan
pikiran filsufnya tentang hidup dan perjalanan membuat kita punya sudut pandang
yang lebih luas tetap segala konflik dan suasana yang ia alami. Foto-foto perjalanannya yang juga sangat hidup
membuat buku semakin bewarna dan menarik.
Ada
10 bab di buku tersebut, menariknya alurnya di bagi dua arah satu
menceritakan perjalanannya dalam menaklukan banyak negara sementara sisi lain
bercerita tentang ibunya yang sedang sakit parah melawan kanker. Ceritanya
sangat refleksi ketimbang buku sebelumnya karena dua alur tersebut. Mungkin,
untuk pemula buku ini agak lambat alurnya, namun realitanya inilah pembeda buku
ini dengan buku karya beliau yang lain yang cukup emosional (menurut saya buku
kali ini agak lebih cocok dalam bentuk movie)
bak hadiah terakhir untuk sang ibu
dengan ketebalan buku 500 halaman lebih.
Ada
banyak negara yang dilaluinya dengan pembukaan Nepal, Pakistan, india sampai
afghanistan, insight baru juga tak kalah banyak. Pertemuan dengan banyak orang
baru, takdir, perang, filosofi damai yang sering ditemukan dislogan di negara
konflik cukup memaksa otak berpikir. Dan tentunya juga beragam kesialan yang
selalu membersamai perjalanaan agustinus Wibowo. Di palak, diiculik, dicopet,
sakit parah sampai amunisinya kembali diremas kala di india. Banyak drama yang
membuat salut sekaligus terkejut, kenapa ia masih saja melanjutkan
perjalanannya. Kalau kata Lim kata salah
satu teman perjalanan yang ditemuinya “ Sepertinya di dahimu tertulis 3 R –
“Rob me, rpe me, rescue me” saking apes dan dramanya setiap perjalananan.
Baca juga Review Buku Selimut Debu membedah negara Thaliban
Sedikitnya ada
beragam hal unik yang menjadi khasanah khusus setiap negara yang di
kunjunginya, seperti konflik setiap negara yang cukup varian, india dengan
Pakistan, konflik Tibet dengan Tiongkok, maupun India dengan Nepal yang masih
semi akur. Tak lupa afganistan dengan konflik berkepanjangan yang sangat subur
dengan bom terornya. Saya akhirnya tahu jikalau nepal juga punya kasta layankya
india yang mana, mereka yang punya hidung mancung layaknya keturunan indo-arya
dianggap sebagai kasta tertinggi. Saya juga jadi tahu sekilas tentang sisi
uyghyur yang jarang di tampilkan dalam persepektif orang china, yang menganggap
mereka sebagai masyarakat kelas dua atau bahkan di bawahnya lagi karena daerah
Xinjiang di anggap sebagai kawasan yang kacau balau penuh bandit. Saya juga jadi tahu ada tradisi minum kencing
sapi untuk wanita yang baru melahirkan sebagai obat di india.
Sangat banyak insight baru yang saya konsumsi pada buku ini, terlepas dari informasi unik, banyak pengalaman perjalanan yang cukup beragam yang membuat saya refleksi terkhususnya lagi kala perjalanan di Afghanistan, bagian krusial di penghujung buku. Seperti kisah Ahmad salah satu teman barunya di Afghanistan yang punya alur cerita sudah apes lahir di negara berkonflik afghanistan makin apes lagi dengan kondisi ibunya yang sakit parah. Ia dengan posisi kesulitan untuk makan sehari-har tapi tetap memaksa diri membawa ibunya berobat, tak tanggung-tanggung ke india dengan posisi kantong kering. Pinjaman hutang dengan segala jaminan dilakukan untuk kesembuhan ibunya, Bahkan ginjalnya juga siap diberikan untuk ibunya yang sudah gagal ginjal asal bisa sembuh. Ini membuat agustinus merasa bersalah seketika ingat posisi ibunya yang sakit parah tapi ia tidak membersamai dimasa genting dan kritisnya. Ada satu kalimat yang saya sangat suka di buku ini kala ibunya yang sering mengirim surat untuknya yang khawatir selalu kondisi anaknya yang sering sial tersebut
“Jadi mama itu dimana mana selalu cerewet kamu jangan bosen ya nak”
Sejatinya
konflik yang di bahas sangat komplit tentang pengabdian sebagai seorang anak,
pencaharian jati diri dan Impian. Konflik Rumah tangga pun
diungkit, jati diri dengan indentitas kepercayaannya diributkan juga. Cerita
dibalut dengan sisi yang berlarut pada konflik batin antara pulang atau melanjutkan perjalanaan. Setelah segala pesan, nasihat perjalananan memenuhi harapan ibunya. Memikirkan
ingin pulang pun ia masih kebingungan, budget paspasan atau larangan yang
membuat dilema. Kisah ini terhitung imbang antara perjalanannya ke beragam tempat
dengan alur masa lalunya. Seakan memperjalas sejauh manapun jejak kita bergerak
kita akan kembali ke tempat asal kita atau sederhananya “pada akhir dari sebuah pecaharian dalam
perjalanan yang sedang di tuju ialah untuk memaknai sebuah kepulangan.”
#travelbook #booksgram #reviewbukutitiknol




Wah, jadi teringat buku-bukunya Ahmad Fuadi, yang juga membahas perjalanan dari negara ke negara. Bedanya yang ini lebih "keras" ya perjuangannya, walau sebetulnya sulit juga membandingkan hal yang subyektif 😅
ReplyDeleteTerima kasih sudah sharing buku bagus 🙏🏻
judulnya apa mbak jadi penasaran juga saya, Kebetulan saya suka buku tema perjalanan. efek gak kesampaian jadi jelajah lewat buku ckckc
DeleteAku udah baca buku-bukunya Agustinus Wibowo yang judulnya Selimut Debu, Garis Batas, Titik Nol, dan Jalan Panjang untuk Pulang. Titik Nol ini menurutku isinya paling berat.
ReplyDeleteBenar ini yang paling berat untuk saya dan terhitung paling lama saya selesain dari semua buku beliau
DeleteSaya jadi makin penasaran dengan buku Titik Nol setelah baca ulasan ini. Menarik sekali bagaimana perjalanan ke berbagai negara dipadukan dengan kisah pribadi yang begitu emosional. Kelihatannya ini bukan sekadar buku perjalanan, tapi juga tentang pencarian makna hidup dan keluarga
ReplyDeleteBenar banget mbak ceritanya kalau di tarik alur isinya tentang pencarian makna hidup
DeleteTernyata penipu dari FB berkeliaran pindah ke Thread ya. Harus waspada nih...
ReplyDeleteSenang dengan adanya review ini saya juga jadi ikut tau bagaimana diceritakan ragam hal unik yang menjadi khasanah khusus setiap negara yang di kunjungi sang tokoh.
Termasuk konflik setiap negara yang cukup varian, seperti India dengan Pakistan, konflik Tibet dengan Tiongkok, maupun India dengan Nepal yang masih semi akur. Tak lupa afganistan dengan konflik berkepanjangan yang sangat subur dengan bom terornya.
Saya jadi penasaran dan mau search dengan tradisi minum kencing sapi untuk wanita yang baru melahirkan sebagai obat di India. Apakah secara medis bagus? Atau hanya karena sapi di India itu didewakan?
Kak in maksudnya ditipu gimana ya?? Beli mahal tapi ternyata bukunya edisi preloved kah kak?? Atau buku palsu???
ReplyDeleteKlo buku palsu aku juga pernah pengalaman kirain lagi promo gt tapi ternyata buku bajkan nyesel banget deh habis habis itu gak pernah lagi beli2 yang gak jelas mending kalo online belinya di toko buku yang terpercaya
Btw sepertinya ceritanya menarik ya kak..jadi banyak dapat pengetahuan baru dari perjalanannya ke beberapa negara tsb
Aku follow Agustinus di iG tapi belum pernah baca buku2nya. Tujuan utama follow dia sebenarnya karena mau ikutan trip Turkmenistan yang tiap tahun diadain. Secara Turkmenistan ini kayak Korea Utara, yang kalah kesana wajib pakai travel , jadi ga bisa pergi solo.
ReplyDeleteMakanya mau ikutan dengan Agustinus kalau ada lagi.
Cuma so far waktunya ga pernah cocok dengan aku 😔
Jadi tertarik baca bukunya juga mba. Coba ah ntr aku cek di Gramedia masih ada yg jual atau ga. Krn termasuk buku lama kan yaa.
Saluuut dengan orang2 yang bisa travel lama begini, apalagi ke Negara2 beresiko tinggi. Tapi dia masih single sih yaaa. Kalau aku udh pasti dilarang suami selama itu travelingnya hahahaha. Limit waktu cuma dikasih 18 hari maksimal Ama suami. Lebih dari itu ga boleh 🤭
Ikut terharu pas baca perkataan ibunya, jadi ibu memang biasanya cerewet.
Bener sih, itu semua karena kita pasti kuatir dengan anak yang sedang jalan ke negara orang, apalagi dengan banyaknya kesialan yang didapat 😔.
Sedihnya ibundanya yang sakit ginjal. Sepertinya saat membaca bukunya secara full akan membuat sesenggukan. Walau mengandung bawang, tapi ada hikmah kehidupan di sana
ReplyDeleteNgebaca deskripsinya kok aku langsung merinding yaaa. Kebayang banget rasanya begitu banyak tantangan yang dilalui dalam perjalanan melintasi banyak negara. Sementara di saat bersamaan, orang-orang mah kan taunya cuma 'seneng' doang nih bisa liburan ke luar negeri. Nope, aslinya banyak perjuangannya ya.
ReplyDeleteAku jadi makin penasaran nih sama ulasannya. Coba aku hunting ah, hihihihi
Ngebacanya jadi ikut ngerasain gregetnya waktu buku ini datang, apalagi sempat kena tipu segala di awal. BTW aku punya bukunya lengkap lho... kebetulan aku suka tulisan agustinus wibowo sih ya
ReplyDeleteTitik Nol ini emang beda, rasanya kayak diaduk-aduk antara takjub sama petualangan luar biasa di negeri orang dan rasa haru pas ingat perjuangan ibunya di rumah. Dualisme alur itu yang bikin buku ini berasa hidup banget, bukan sekadar catatan perjalanan biasa tapi juga perjalanan batin yang dalam.
saya belum pernah membaca buku-buku Agustinus Wibowo. dan sepertinya rekomended ya, salah satunya titik nol ini yang tentang sebuah perjalanan. pastinya banyak lika-liku yang dihadapi selama perjalanan. tapi begitulah hakikahnya. sejauh-jauhnya... kemana pun pergi, pasti akan kembali pulang. dan pulang inilah yang menandakan titik nol.
ReplyDeleteWah ada dramanya jg nih utk bs beli novel best seller ini. Btw ini buku lama ya kak Inia kok sampe susah cari buku preloved-nya? Mgkn dgn kondisi msh bgs kali ya.
ReplyDeleteBtw, buku perjalanan yang bagus emang kadang bukan cuma bikin kita pengin pergi, tapi malah bikin mikir tentang alasan kita pergi. 😄 Titik Nol kayaknya punya rasa yang begitu—perjalanan bukan sekadar pindah tempat, tapi juga perjalanan mengenal diri sendiri.
Aku suka tulisan review yang bikin bukunya terasa dekat, bukan cuma kasih sinopsis lalu selesai. Apalagi kalau setelah baca review-nya muncul rasa penasaran buat ikut membuka bukunya.
Masalahnya, abis baca review buku perjalanan begini, yang bergerak duluan biasanya bukan kaki, tapi jempol cari tiket. 😂
Bagi seorang blogger, membaca buku minimal satu buku tiap bulan memang penting. Soalnya beda sekali rasanya antara membaca buku cetak dengan cuma baca di ebook. Namun, ya, karena kesibukan atau sok sibuk, justru tidak sempat menamatkan satu buku dalam sebulan, termasuk saya. Hehe.
ReplyDeleteWah perjalanan mendapatkan bukunya ternyata tidak mudah ya. Ada saja dramanya. Semoga tidak terjadi lagi.
ReplyDeleteNgomong-ngomong soal buku Titik Nol ini, saya jadi inget pernah membacanya di gramedia digital tapi belum selesai. Ceritanya memang menarik sih. Kayaknya harus saya lanjutkan lagi sampai tamat.
Aku dulu punya buku ini tapi kayaknya hilang. huhuhu. Aku sendiri baru baca 2 buku Agustinus Wibowo ini yang Titik Nol ini sama Jalan Panjang untuk Pulang yang isinya itu juga bagus banget. Ini penasaran sama Garis Batas dan Selimut Debu yang banyak membahas tentang Afganistan
ReplyDeletebuku karya Agustinus ini, udah lama aku incer, udah beberapa tahun lalu, bisa-bisanya belum aku baca sama sekali.
ReplyDeleteDengan tema buku ini, secara nggak langsung membuka mata kita akan apa yang terjadi diluaran sana, perjuangan seorang anak. Dan yang aku penasaran adalah sama daerah Xinjiang. Mungkin karena sekarang aku terlalu banyak nonton drama, jadi nama daerah ini nggak asing buatku
Wahhh Titik Nol sudah khatam dibaca ya Mbaaaa 😄 Aku kok jadi tertarik banget sama ceritanya yang ternyata bukan cuma perjalanan ke berbagai negara, tapi juga dibarengin cerita tentang mamanya yang sakit yaaa… Apalagi pas Agustinus ketemu cerita Ahmad di Afghanistan dan jadi kepikiran sama kondisi mamanya sendiri, kayaknya bagian ini yang bikin ceritanya terasa lebih deep yaa. Heuheu
ReplyDeleteRelate banget sama kesimpulan Mba, sejauh apa pun kita pergi, akhirnya perjalanan itu membawa kita kembali ke rumah dan keluarga. Jadi penasaran juga pengen baca bukunyaaaa
Membaca review ini, aku jadi pengen baca juga buku Titik Nol. Ceritanya menarik dan tentunya sarat insight ya mbak
ReplyDeleteHmmm, apakah sebuah perjalanan harus diakhiri dengan pulang? *eaaaa.
ReplyDeleteMalah aku suka kepikkiran saat melakukan perjalanan dan menyukai tempat baru itu, aku maunya nggak pulang, aku mau hijrah wkwk :D
Wow takjub bukunya tebal yaaa. Ternyata banyak sekali perjalanan dan pengalaman yang sudah didapatkan oleh penulisnya.
Ternyata selain bercerita tentang perjalanannya, juga ada sisi menceritakan tentang ibunya yang sedang sakit ya?
Perjalanan2 itu apalagi ke area yang berbeda sejarah dan budaya selalu membuat manusia jadi merasa lebih kaya dan bisa memandang dunia dengan sudut pandang yang lebih luas lagi yaa.
Beruntung mbak bisa dapat bukunya dengan harga diskon. Aku jadi pengen baca juga deh. Kalau ke Gramedia mau mencarinya juga ah :D
Buku ini termasuk dalam salah satu buku traveling terbaik, buku yang bagus untuk dibaca para travelers. Bukan hanya sekedar perjalanan biasa yapi banyak sudut pandang yang diulas dalam buku ini.
ReplyDeleteAku belum pernah baca buku Agustinus Wibowo mbak, jadi belum tergambarkan bagaimana gaya menulisnya dan pemilihan diksinya. Kalau dari judulnya Titik Nol, setiap manusia menurutku pernah ada di Titik nol, apakah ini juga gambaran tokoh dalam novel ini yang sering mengalami kesialan
ReplyDeleteBtw aku juga baru tahu budaya minum kencing sapi bagi wanita yang baru melahirkan di india, hmm ga kebayang deh