Ada pertanyaan dasar untuk membuka postingan kali ini. Kalian percaya gak dengan konsep kepribadian yang bisa dilihat karakter fisi kita?
Sebuah buku yang tidak sengaja
saya temukan di lemari dengan status berkepemilikan kakak saya akhirnya membuat
saya penasaran. FYI Buku ini pernah cukup laris di beranda tiktok dulunya, bahkan
saking larisnya sayapun sempat baca potongan video yang menunjukan satu halaman
yang berhasil bikin videonya ramai akan
interaksi dari rasa rasa kepo para netizen. (Mungkin beberapa dari kalian juga pernah
ketemu terkhusus lagi yang fypnya keseringan tentang buku)
Buku karangan
dari Imam Fakhruddin Ar-Razi mempunyai ketebalan 200 halaman. Beliau ini
sendiri adalah seorang ulama besar yang juga ahli tafsir, logika, filsafat, dan
sains alias merangkap kebanyak keilmuan dalam beragam konteks terlepas dari memahami
karakter orang saja.
Adapun dalam
buku ini ada 3 bab besar, dimana pada setiap bab terpecah ke beragam Bab lagi
mulai dari watak kepribadian yang berhubungan dengan tahapan usia hingga berhubungan
dengan ekonomi. Ada juga petunjuk dari organ tubuh atau dari penampilan. Saking
luasnya konteks yang dibahas sampai sampai buku ini dianggap “melampaui
zamannya” pada saat itu karena membahas pembacaan karakter manusia jauh sebelum
ilmu fisiognomi populer di Barat kala itu. Begitulah judul covernya
mendeskripsikan. Untuk lebih Rincinya berikut point dari :
Isi
dan Pembahasan
- dasar-dasar ilmu firasat,
- hubungan sifat batin dengan ciri fisik,
- pembacaan karakter dari mata, dahi, suara, cara
berjalan, tertawa, hingga bentuk tubuh,
- pengaruh usia, lingkungan, dan kondisi sosial
terhadap watak manusia.
Beberapa bagian terasa seperti
gabungan psikologi klasik, pengamatan sosial, dan hikmah tasawuf. Namun terhitunga
kurang detail penjelasannya atau mungkin kurang di otak saya saja karena
gabungan dengan tasawuf juga ?
Kelebihan Buku
- Bahasannya unik dan jarang ditemukan di buku
modern.
- Banyak observasi tentang perilaku manusia yang
masih terasa relevan.
- Cocok untuk pembaca yang suka psikologi Islam,
tasawuf, atau filsafat manusia.
.
Kekurangan Buku
- Sebagian penilaian karakter berdasarkan fisik
terasa subjektif jika dibaca dengan sudut pandang modern. Alias secara keilmuan
pasti tidak ada penjelasan yang mendukung dalam melihat fisik yang bisa
diterjemahkan pada kepribadianya.
- Ada pembahasan yang sulit divisualisasikan karena
memakai istilah tubuh klasik.
- Tidak semua isi bisa dianggap ilmiah menurut
standar psikologi modern. Alias jangan diterima secara mutlak ya. Hitung hiburan
aja gak papa sih. Karena saya pribadi juga kurang percaya dengan konsep
membaca karakter orang dari fisik.
Saya Pribadi
juga tidak percaya dengan konsep membaca karakter dari fisik, namun siapa
sangka buku dengan tulisan yang selalu laris di tiktok ini akhirnya sampai di
tangan saya juga melalui cara yang berbeda. Mumpung gratis kepo juga saya jadi
ikutan baca.
Secara
konsep ada beberapa yang saya percaya dimana nalarnya bisa dihubungkan ke
logika, artinya penjelasan yang cukup ilmiah bisa saya terima terlepas dari
melihat persoalan karakter dari fisik saja, namun beberapa tidak bisa saya cerna,
sehingga mengingatkan saya pada konsep seperti kitab fathul izzar atau kitab lain yang juga sempat viral bab nikah
dengan gambaran konsep rada mirip tapi lebih puyeng lagi, dimana missal yang bibir
nya tebal berarti orang tersebut hyper
atau sejenis alis tebal yang pelariannya gk jauh dari konsep bab kawinnya. Ini juga
salah satu kitab yang cukup banyak di jadikan alat untuk melecehkan banyak orang
karena konsep yang dipelajari tak jauh dari konsep karakter melihat kepribadian
demikian, sampai- sampai saya pernah ketemu video tiktok yang isinya “pakailah
cadarmu ya ukhti karena saya bisa melihat karaktermu hanya diri bentuk bibirmu
saya” parahnya lagi vt ini dipelopori oleh para santri kebanyakan.
Tapi syukurnya
kita Firasat ini tidak membahas konsep seperti yang di kitab fathul izzar walau ada satu dua point yang nyelip dan gk
make sense di saya juga. Jadi untuk para cabulers buku ini tidak direkom. Tapi tenang
saja buku ini tidak sekedar membahas tentang kepribadian tapi kompleks ke
banyak hal lain semisal struktur sosial. Saya ambil contoh yang make senses menurut
pandangan saya yaitu di bab watak manusia yang berhubungan dengan kondisi
economy ialah “orang yang memiliki nasab mulia biasanya sangat mengagungkan
kehormatan. Sebagai contoh mereka banyak mengikuti tradisi penduhulu karena dalam
anggapan semakin tua usia tradisi maka semakin sempurnalah tradisi tersebut.” Penjelasannya
putus disini namun dalam secara tafsiran pemahaman saya bisa menangkap nya
cukup baik. Semakin tua semakin di sakralkan tradisi tersebut membuat posisinya semakin di pandang
besar begitupun pelakunya.
Adapun contoh sisi yang tidak bisa saya cerna ialah “Orang yang memiliki mata bewarna seperti minuman jernih adalah orang yang bodoh. Petunjuk ini diambil berdasarkan mata domba” Sebuah penjelasan yang tidak bisa diduga dan tidak tuntas juga penjelasanya. Apa kaitannya coba dengan mata domba? Tentu kalian juga pasti akan complain mirip atau tidaknya ciri mata tersebut dengan mata kita sendiri.
Kesan Umum
Buku ini lebih cocok dibaca
sebagai:
Warisan
pemikiran Islam klasik, tapi tidak cocok untuk jadi rujukan memahami dan menafsirkan
karakter orang langsung. ingat ya Bukan sebagai “alat pasti” untuk menghakimi
karakter seseorang. Jadi bisa dikatakan sebagai khasanah bahan refleksi tentang
hubungan lahir dan batin terkhsusus lagi penjelasan beragam struktur sosial
juga yang masih bisa diterima akal pikiran perkembangan.
#reviewbuku #kitab





No comments:
Post a Comment